Minggu, 12 Februari 2012

Kematian Janin Dalam Rahim


Kematian Janin Dalam Rahim
1.    Pengertian
   Kematian janin biasanya didefenisikan sebagai kematian intrauterin dari janin dengan berat 500 gram atau  lebih atau pada janin pada umur kehamilan sekurang-kurangnya 20 minggu.
2.    Etiologi
a.   Perdarahan: plasenta previa dan solusio plasenta. Solusio plasenta atau terlepasnya plasenta diakibatkan oleh trauma,misalnya karena benturan pada perut. Benturan ini bisa saja mengenai pembuluh darah di plasenta, sehingga timbul perdarahan di plasenta atau plasenta terlepas sebagian. Akhirnya aliran darah ke janin pun tidak ada.
b.    Pre-eklampsia dan eklampsia. Pre-eklampsia dan eklampsia merupakan kumpulan gejala yang timbul pada ibu hamil, bersalin, dan pada masa nifas yang terdiri dari trias: hipertensi, protenuria, dan edema; yang kadang-kadang disertai dengan konvulsi sampai koma. Hal ini dapat menyebabkan aliran darah menurun ke plasenta dan menyebabkan gangguan pertumbuhan janin dan kekurangan oksigen sehingga terjadi hipoksia intrauterin.
c.    Penyakit-penyakit kelainan darah, menjadi Misalnya; ketidakcocokan antara rhesus darah ibu dengan arah janin. Akan timbul masalah bila ibu memiliki rhesus negatif, sementara bapak rhesus positif, sehingga anak akan mengikuti yang dominan, akibatnya antara ibu dan janin mengalami ketidakcocokan rhesus. Ketidakcocokan ini akan mempengaruhi kondisi janin tersebut yaitu dapat terjadi hidrofetalis, suatu reaksi imunologis yang menimbulkan gambaran klinis pada janin antara lain, pembengkakan pada perut akibat terbentuknya cairan berlebih dalam rongga perut (asites), pembengkakan kulit janin, penumpukan cairan dalam rongga dada dan jantung, biasanya janin tidak dapat  tertolong.
d.    Penyakit infeksi dan penyakit menular. Penyakit infeksi pada ibu disebabkan oleh virus dapat mengakibatkan kematian janin dalam rahim seperti rubella, sitomegalovirus, herpesvirus hominis, virus coxsakie, dan campak. Penyakit menular seksual seperti sifilis. Selain itu infeksi bakteri dapat menyebabkan kematian janin misalanya tifus abdominalis dengan angka kematian 75% dan kolera dengan angka kematian 57%
e.    Penyakit saluran kencing: bakteriuria, pielonefritis, glomerulonefritis, dan payah ginjal. Sejauh telah diketahui bahwa kehamilan dapat mempengaruhi aliran darah dan aliran plasma efektif ke ginjal  dan saluran kencing. Kecepatan filtrasi glomeruler dan fungsi tubuler meningkat 30-50% selama kehamilan.
f.   Penyakit endokrin: diabetes mellitus dan hipertiroid. Penyakit diabetes dapat merupakan kelainan hederitar dengan ciri insufiensi insulin dalam sirkulasi darah, konsentrasi gula darah tinggi, dan berkurangnya glikogenesis. Diabetes dalam kehamilan menimbulkan banyak kesulitan. Penyakit ini akan menyebabkan perubahan-perubahan metabolik dan hormonal penderita yang juga dipengaruhi oleh kehamilan. Angka kematian perinatal karena penyakit ini adalah 10-15%. Selain itu pada kehamilan, kelenjar tiroid mengalami hiperfungsi ditandai dengan naiknya metabolisme basal sampai 15-27% dan kadang kala disertai pembesaran ringan. Akibat penyakit ini adalah kematian janin dalam rahim.
3.    Patologi
Apabila janin mati pada kehamilan yang telah lanjut, terjadilah perubahan sebagai berikut :
a.    Rigor mortis (tegang mati) berlangsung 2 ½  jam setelah mati kemudian lemas kembali.
b.    Stadium maserasi I adalah timbulnya lepuh-lepuh pada kulit. Lepuh ini mula-mula berisi cairan jernih, tetapi kemudian menjadi merah. Berlangsung sampai 48 jam setelah anak mati.
c.    Stadium maserasi II adalah timbul lepuh-lepuh pecah dan mewarnai air ketuban merah coklat. Terjadi 48 jam setelah anak mati.
d.    Stadium maserasi III adalah terjadi kira-kira 3 minggu setelah anak mati. Badan janin sangat  lemas dan hubungan antara tulang-tulang sangat longgar dan edema dibawah  kulit.
4.    Diagnosis
a.    Anamnesis : ibu tidak merasakan gerakan janin dalam beberapa hari atau gerakan janin sangat berkurang. Ibu merasa perutnya tidak bertambah besar, bahkan bertambah kecil, atau kehamilan tidak seperti biasanya.
b.    Inspeksi : tidak kelihataan gerakan-gerakan janin
c.    Palpasi :
1)    TFU lebih rendah dari seharusnya tuanya kehamilan, tidak teraba gerakan-gerakan janin
2)    Pada palpasi yang teliti, dapat dirasakan adanya krepitasi pada tulang kepala janin.
d.   Auskultasi : baik memakai stetoskop monoral maupun deptone tidak akan terdengar denyut janin.
e.    Reaksi kehamilan : reaksi kehamilan baru negative  setelah beberapa minggu janin mati dalam kandungan
f.     Rontgen foto abdomen
1)    Adanya akumulasi gas dalam jantung dan pembuluh darah besar janin.
2)    Tanda nojosk : adanya ingulasi yang tajam tulang belakang janin.
3)    Tanda Gerhard : adanya hiperekstensi kepala tulang leher janin.
4)    Tanda spalding : overlapping tulang-tulang kepala (sutura) janin
5)    Disintegrasi tulang janin bila ibu berdiri tegak.
6)    Kepala janin kelihatan seperti kantong yang berisi benda padat.                                                             
5.    Diagnosis banding
a.    Mioma uteri.
b.    Molahidatidosa.
6.    Komplikasi
a.    Trauma emosional yang berat  terjadi bila waktu antara kematian janin dengan persalinan cukup lama.
b.    Dapat terjadi infeksi jika ketuban pecah. (Saifuddin,2000:336)
c. Kematian janin dalam kandungan lebih dari 3-4 minggu biasanya tidak membahayakan ibu . setelah lewat 4 minggu maka kemungkinan terjadinya kelainan darah (hipo-fibrinogenemia) akan lebih besar; oleh karena itu pemeriksaan pembekuan darah harus dilakukan setiap minggu setelah diagnosis ditegakkan. Bila terjadi hipofibrinogenemia, maka akan  terjadi perdarahan postpartum 
7.    Penanganan
a.    Periksa tanda vital.
b.    Ambil darah untuk pemeriksaan darah perifer, fungsi pembekuan, golongan darah ABO dan rhesus.
c.    Jelaskan seluruh prosedur pemeriksaan dan hasilnya serta rencana tindakan akan dilakukan kepada pasien dan keluarganya. Bila belum ada kepastian sebab kematian, hindari memberikan informasi tidak tepat.
d.   Dukungan mental emosional perlu diberikan kepada pasien. Sebaiknya pasien selalu didampingi dengan orang terdekatnya. Yakinkan bahwa besar kemungkinan dapat lahir pervaginam.
e.   Rencana persalinan pervaginam dengan cara induksi maupun ekspektatif, perlu dibicarakan dengan pasien dan keluarganya, sebelum keputusan diambil.
f.     Bila pilihan adalah ekspekatif ; tunggu persalinan spontan hingga 2 minggu yakinkan bahwa 90% persalinan spontan akan terjadi tanpa komplikasi.
g.    Bila pilihan adalah manajemen aktif : induksi persalinan mengunakan oksitosin dan misoprostol. Seksio sesarea merupakan pilihan misalnya pada letak lintang.
h.  Berikan kesempatan pada ibu dan keluarganya untuk melihat dan melakukan berbagai kegiatan ritual bagi janin yang meninggal tersebut.
i.      Pemeriksaan patologi plasenta akan mengungkapkan adanya patologi plasenta dan infeksi.
8.    Faktor dari ibu yang mempengaruhi kematian perinatal dan kematian janin dalam rahim
a.    Status sosial ekonomi yang rendah.
b.    Tingkat pendidikan ibu yang rendah.
c.    Umur ibu yang melebihi 35 tahun dan kurang dari 20 tahun
d.    Jarak kehamilan kurang dari 2 tahun
e.    Paritas ke tiga atau lebih.
f.     Kehamilan di luar perkawinan
g.    Kehamilan tanpa pengawasan antenatal.
h.    Riwayat kehamilan dengan komplikasi

Referensi :
          - Achadiat, Chrisdiono M. 2004. Prosedur Tetap Obstetri dan Ginekologi. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta.
          - Mochtar, R. 1998. Sinopsis obstetri. Penerbit  Buku Kedokteran EGC. Jakarta.
          - Sastrawinata, S. 2004. Obstetri Patologi. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta.
          - Wiknjosastro, H. 2006. Ilmu Kebidanan. Yayasan Bina  Pustaka. Jakarta.

   




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar