Kamis, 15 Maret 2012

Hipertensi dalam Kehamilan


Klasifikasi Hipertensi dalam Kehamilan  
     Klasifikasi hipertensi dalam kehamilan meliputi :
a.    Hipertensi kronik
1)    Hipertensi kronik dengan gejala dantanda yang selalu ada adalah :
a)    Tekanan diastolik ≥ 90 mmHg
b)    Umur kehamilan < 20 minggu
2)    Hipertensi kronik dengan superimposed preeklampsi ringan dengan gejala dan tanda yang selalu ada adalah :
a)    Tekanan diastolik 90-110 mmHg pada kehamilan < 20 minggu
b)    Proteinuri < +2
b.    Hipertensi karena kehamilan
1)    Hipertensi tanpa proteiuri dan edema dengan gejala dan tanda yang selalu ada adalah :
a)    Tekanan diastolik 90-110 mmHg pada 2 x pengukuran berjarak 4 jam
b)    Umur kehamilan > 20 minggu
c)    Proteinuri (-)
2)    Preeklampsia ringan dengan gejala dan tanda yang selalu ada adalah :
a)    Tekanan diastolik 90-110 mmHg pada 2x pengukuran dengan jarak 4 jam
b)    Umur kehamilan > 20 minggu
c)    Proteinuri sampai (++)
3)    Preeklampsia berat dengan gejala dan tanda yang selalu ada  adalah :
a)    Tekanan diastolik ≥ 110 mmHg pada kehamilan > 20 minggu
b)    Proteinuri ≥ (+++)
Gejala dan tanda yang kadang menyertai adalah :
a)    Nyeri kepala yang tidak hilang dengan pemberian obat analgetik biasa
b)    Penglihatan kabur
c)    Nyeri epigastrium
d)    Oligouri (< 400 ml/24 jam)
e)    Hiperrefleksia
f)     Edema paru
4)    Eklampsia
Gejala dan tanda yang selalu ada :
a)    Kejang
b)    Tekanan diastolik ≥ 90 mmHg pada kehamilan > 20 minggu
c)    Proteinuri ≥ (++)
Gejala dan tanda yang kadang ada adalah :
a)    Koma
b)    Sama seperti preeklampsia berat
    
Referensi Saifuddin AB, 2006, Buku Acuan Maternal Dan Neonatal , YBPSP, Jakarta

Perubahan Psikologi Dalam Kehamilan


Perubahan Psikologi Dalam Kehamilan
     Selama hamil wanita tidak hanya mengalami perubahan-perubahan fisiologis dalam tubuhnya tetapi juga mengalami perubahan psikologis dan emosional. Sering kali kita mendengar mengatakan betapa bahagianya dia karena akan menjadi seorang ibu. Namun tidak jarang ada wanita yang merasa khawatir kalau terjadi masalah dalam kehamilannya, khawatir kalau kehilangan kecantikannya, atau ada kemungkinan bayinya tidak normal. Proses perubahan psikologis wanita hamil antara lain :
a.    Trimester pertama
     Pada trimester pertama ibu merasa tidak sehat dan sering kali membenci kehamilannya. Hal ini terjadi karena adanya perubahan-perubahan fisiologis dalam tubuh sebagai akibat dari meningkatnya hormone estrogen dan progesterone. selain itu banyak ibu merasakan kekecewaan, penolakan, kecemasan, dan kesedihan. Sering kali pada awal kehamilan ibu berharap untuk tidak hamil.
b.    Trimester kedua
Trimester kedua biasanya  adalah saat ibu merasa sehat dan sudah menerima kehamilannya. Tubuh ibu sudah terbiasa dengan kadar hormone yang lebih tinggi dalam tubuhnya. Ibu menerima janin yang bertumbuh sebagai sesuatu yang terpisah dari dirinya dan sebagai seorang  yang perlu dirawat. Banyak ibu merasa terlepas dari rasa kecemasan dan rasa tidak nyaman seperti yang dirasakannya pada trimester pertama.
c.    Trimester ketiga
Trimester ketiga sering kali disebut sebagai periode menunggu atau masa waspada sebab pada saat itu ibu merasa tidak sabar menunggu kelahiran bayinya tersebut. Kadang-kadang ibu merasa khawatir bahwa bayinya akan lahir sewaktu-waktu,merasa khawatir atau takut jika bayinya lahir tidak normal. Seorang ibu mungkin mulai merasa takut akan rasa sakit dan bahaya fisik yang akan timbul pada saat melahirkan 

Referensi :
Bobak dkk. Keperawatan Maternitas. 2005. EGC

Perubahan Fisiologis Dalam Kehamilan

      Perubahan Fisiologis Dalam Kehamilan 

a.    Perubahan sistem reproduksi dan payudara
1)    Uterus
     Uterus akan membesar pada bulan-bulan pertama di bawah pengaruh estrogen dan progesteron yang kadarnya meningkat. Pembesaran ini pada dasarnya disebabkan oleh hipertrofi otot polos uterus. Di samping itu, serabut-serabut kolagen yang ada pun menjadi higroskopik akibat meningkatnya kadar estrogen sehingga uterus mengikui pertumbuhan janin. Berat uterus naik secara luar biasa, dari 30 gram menjadi 1000 gram pada akhir kehamilan.
2)    Serviks uteri
     Serviks uteri pada kehamilan juga mengalami perubahan karena pengaruh hormon estrogen. Serviks mengandung lebih banyak jaringan serabut dan sedikit jaringan otot dibandingkan bagian uterus. Jaringan serabut pada serviks ini banyak mengandung kolagen. Selain itu estrogen juga meningkatkan vaskularitas serviks dan bila dilihat dengan spekulum serviks terlihat kebiru-biruan.
3)    Vagina dan Vulva
     Estrogen menyebabkan perubahan lapisan otot dan epithelium. Lapisan otot mengalami hipertrofi dan epitel menjadi tebal dan menjadi tanda deskuamasi meningkat. Vagina menghasilkan cairan berwarna putih yang dikenal dengan leukore. Sel epitel juga meningkatkan kadar glikogen. Sel ini berinteraksi dengan basil dedorlein dan menghasilkan lingkungan yang lebih asam. Lingkungan ini menyediakan perlindungan ekstra terhadap organisme tetapi merupakan keadaan menguntungkan bagi candida albican. Akibat hipervaskularisasi,vagina dan vulva terlihat berwarna ungu kebiruan. Tanda ini disebut tanda chadwick.
4)    Ovarium
     Pada permulaan kehamilan masih terdapat korpus luteum graviditis sampai terbentuknya plasenta pada kira-kira kehamilan 16 minggu. korpus luteum graviditis berdiameter kira-kira 3 cm. kemudian ia mengecil setelah plasenta terbentuk. Korpus luteum ini mengeluarkan hormone estrogen dan progesterone. Lambat laun fungsi ini diambil alih oleh plasenta (Winkjosastro H, 2005 : 95)
5)    Mammae / payudara
      Peningkatan kadar estrogen dan progesterone menyebabkan hipertrofi dan hyperplasia pada payudara, sehingga payudara akan mengalami pembesaran. Selain  itu hormone somatomammotropin juga menstimulasi pembesaran payudara. Rasa penuh dan berat, perubahan sensitivitas mulai timbul sejak umur kehamilan 6 minggu. Puting susu dan areola menjadi lebih berpigmen dan putting susu menjadi lebih erektil.
     Perkembangan kelenjar mammae secara fungsional lengkap pada pertengahan masa hamil. Walaupun demikian laktasi tetap terhambat sampai kadar estrogen menurun, yakni setelah janin dan plasenta lahir.

b.    Perubahan sistem kardiovaskuler
     Perubahan system kardiovaskuler ,melindungi fungsi fisiologi normal wanita, memenuhi kebutuhan metabolik tubuh saat hamil, dan menyediakan kebutuhan untuk perkembangan dan pertumbuhan janin. Peningkatan volume plasma darah dan curah jantung disebabkan oleh hipertrofi atau dilatasi ringan jantung, karena diafragma terdorong ke atas, jantung terangkat ke atas dan berotasi ke depan dan ke kiri.
     Selama pertengahan pertama masa hamil, tekanan sistolik dan diastolic menurun 5 sampai 10 mmHg. Penurunan tekanan darah ini kemungkinan disebabkan oleh vasodilatasi pembuluh darah perifer akibat perubahan hormonal selama masa hamil. Selama trimester ketiga, tekanan darah ibu harus kembali ke nilai tekanan darah selama trimester pertama.

c.    Perubahan sistem pernapasan 
     Pada ibu hamil kebutuhan oksigen meningkat sebagi respon terhadap peningkatan laju metabolisme dan peningkatan kebutuhan oksigen jaringan uterus dan payudara. Janin membutuhkan oksigen dan suatu cara untuk membuang karbondioksida.
     Diafragma bergeser sebesar 4 cm selama masa hamil. Dengan semakin tuanya kehamilan dan seiring pembesaran uterus ke rongga abdomen, pernapasan dada menggatikan pernapasan perut dan penurunan diafragma saat inspirasi menjadi semakin sulit.

d.    Perbahan sistem urinaria
     Perubahan struktur ginjal merupakan aktivitas hormonal (estrogen dan progesterone), tekanan yang timbul akibat pembesaran uterus, dan peningkatan volume darah. Sejak minggu ke-10 kehamilan, pelvis ginjal dan ureter berdilatasi. Perubahan ini membuat ureter  mampu menampung urine dalam volume yang lebih besar dan juga memperlambat laju urine.

e.    Perubahan sistem gastrointestinal
     Fungsi saluran cerna selama masa hamil menunjukkan gambaran yang sangat menarik. Gusi cenderung mudah berdarah karena kadar estrogen yang meningkat menyebabkan peningkatan vaskularisasi selektif dan proliferasi jaringan ikat. Pada trimester pertama terjadi penurunan nafsu makan akibat nausea / vomitus. Gejala ini muncul sebagai akibat dari perubahan saluran cerna dan peningkatan kadar hCG dalam darah.
     Peningkatan progesterone menyebabkan tonus dan motilitas otot polos menurun, sehingga terjadi regurgitasi esophagus, peningkatan waktu pengosongan lambung, dan peristaltik balik. Akibatnya ibu hamil tidak mampu mencerna asam atau mengalami nyeri ulu hati. Selain itu penurunan motilitas otot polos menyebabkan absorpsi air di usus besar meningkat, sehingga dapat terjadi konstipasi.

f.     Perubahan sistem integumen
     Perubahan keseimbangan hormone dan peregangan mekanis menyebabkan timbulnya beberapa perubahan dalam system integument selama masa hamil. Jaringan elastik kulit mudah pecah, menyebabkan striae gravidarum atau tanda regangan. Hiperipigmentasi timbul akibat peningkatan hormone hipofisis anterior melanotropin selama masa hamil.